Sebagai orang tua atau tenaga kesehatan yang berhadapan langsung dengan kasus kejang demam pada anak di instalasi gawat darurat (IGD), wajar jika kamu merasa panik atau bingung. Saya ingin berbagi informasi yang mudah dipahami tentang asuhan keperawatan (askep) kejang demam pada anak di IGD, mulai dari pengkajian awal hingga evaluasi, sup kamu lebih siap dan tenang dalam mengapi situasi ini.
Apa Itu Kejang Demam pada Anak dan Mengapa Bisa Terjadi?
Kejang demam adalah kondisi di mana anak mengalami kejang yang dipicu oleh kenaikan suhu tubuh yang tinggi, biasanya di atas 38Β°C, tanpa adanya infeksi pada sistem saraf pusat atau penyebab neurologis lain yang jelas. Kondisi ini paling sering terjadi pada anak usia 6 bulan hingga 5 tahun. Penyebabnya bukan kej "membahayakan otak" secara langsung, melainkan respons sistem saraf yang belum matang terhadap lonjakan suhu tubuh yang cepat. Biasanya dipicu oleh infeksi virus seperti flu, infeksi saluran pernapasan atas (ISPA), atau infeksi telinga. Faktor genetik juga berperan β jika orang tua pernah mengalami kejang demam saat kecil, risiko anak mengalaminya lebih tinggi.
Bagaimana Pengajian Kerawatan Dilakukan Saat Anak Masuk IGD?
Pengkajian keperawatan atau assessment langkah pertama dan paling krusial saat anak dengan kejang demam tiba di IGD. Perawat akan segera melakukan anamnesis cepat kepada orang tua atau pengantar meliputi: kapan kejang pertama kali terjadi, berapa lama kejang berlangsung, bagaimana bentuk kejang (seluruh tubuh atau hanya satu sisi), apakah ada riwayat kejang sebelumnya, serta riwayat demam dan pakit sebelumnya. Secara fisik, perawat akan mengukur tanda-tanda vital seperti suhu, nadi, pernapasan, dan saturasi oksigen.enilaian kesadaran menggunakan skala GCS (Glasgow Coma Scale) atau AVPU juga dilakukan untuk menentukan tingkat respons anak. Semua data ini menjadi dasar penuan diagnosis keperawatan dan rencana tindakan.
Saja Diagnosis Keperawatan yang Umum Ditegakkan?
Dalam askep kejang demam di IGD, ada beberapa diagnosis keperawatan yang paling sering muncul. Pertama, risiko cedera berhubungan dengan aktivitas kej tidak terkontrol. Kedua, hipertermia bubungan dengan proses infeksi atau penyakit yang mendasari. Ketiga, risiko aspirasi berhubungan dengan penurunan kesadaran selama episode kejang. Keempat, ansietas orang tua berhubungan dengan kondisi kritis anak secara tiba-tiba. Kelima, kurang pengetahuan orang tua terkait penanganan kejang demam di rumah. Diagnosis-diagnosis ini menjadi panduan bagi perawat untuk menukan intervensi yang tepat dan terstruktur selama anak berada di IGD.
Intervensi Keperawatan yang Dilakukan Saat Anak Masih Aktif Kejang?
Saat anak masuk IGD dalam kondisi masih kejang atauaru saja kejang, tindakan keperawatan harus dilakukan cepat dan tepat. Perawat akan segera memposisikan anak miring salah satu sisiisi lateral) untuk mencegah aspirasi dan menjaga jalan napas tetap terbuka. Pakaian yangtat akan dilonggarkan, dan bendabenda keras sekitar anak dijauhkan untuk mencegah cedera. Oksigen diberikan melalui masker atau nasal kanul untuk menjaga saturasi oksigen tetap normal. Pemasangan akses intravena (IV line) dilakukan secat mungkin untuk pemberian cairan dan obat-obatan. Obat antikonvulsan seperti diazepam akan diberikan sesuai instruksi dokter, baik melalui rektal maupun intravena, tergantung kondisi anak. Selama semua ini berlangsung, perawat terus memonitor tanda-tanda vital dan durasi kejang secara ketat.
Bagaimana Penanganan Hipertermia Dilakukan di IGD?
Mengatasi demam adalah prioritas utama dalam askep kejang demam karena hipertermia adalah pemicunya. Perawat akan memberikan antipiretik sesuai order dokter, biasanya parasetamol atau ibuprofen, baik secara oral rektal (suppositoria), maupun intravena jika kondisi anak tidak memungkinkan pemberian oral. Kompres hangat β kompres es β diberikan di dahi ketiak, dan lipatan paha untuk membantu menurunkan suhu tubuh secara perlahan. Pakaian berleblepas dan anak dipaikan pakaian tipis yang nyaman. Cairan intravena juga membantu menjaga hidrasi anak karena demam mempercepat penguapan cairan tubuh. Pemantauan suhu dilakukan setiap 30 menit hingga kondisi stabil.Apa Peran Perawat dalam Memberikan Edukasi kepada Orang Tua?
Salah satu peran penting perawat di IGD yang sering kurang diperhatikan adalah edukasi kepada orang tua Bayangkan betapa paniknya seorang ibu yang maksikan annya kejang untuk pertama kalinya βeka butuh informasi yang jelas danang dariita. Perawat bertugas menjelaskan apa itu kejang demam, mengapaisa terjadi, dan bahwa sebagian besar kasus tidak mengancam jiwa. Orang tua juga diajarkan cara penanganan pertama jika kejang kembali terjadi di rumah, seperti memisikan anak dengan benar, memasukkan benda apapun ke dalam mulut anak saat kejang, dan kapan harus segera membawa anak kembali ke IGD. Pemberian diazepam rektal diah juga djarkan jika dokter meresepkannya sebagai tindakan emergency sebelum sampai ke fasilitas kesehatan.
KapanAnak dengan Kejang Demam Perlu Dirawat Inap?
Tidak semua kasus kejang demam memerlukan rawat inap. Namun, ada kondisi tertentu yang membuat dokter dan perawat memutuskan bahwa anak perlu diobservasi lebih lanjut. Rawat inap birekomendasikan jang berlangsung lebih dari 15 menit (kejam kompleks),ang terjadi lebih dari satu kali dalam 24 jam, jika anak berusia bawah 12 bulan,ika demam tidak turun setelah penanganan di IGD, jika anak tampak letargis atau kesdarannya tidak pulih dengan cepat, atau jika dicurigai adanya infeksi sistem saraf pusat seperti meningitis. Dalam kasus-kasus ini, observasi ketat dan pemeriksaan lebih lanjut seperti lumbalung EEG mkin diperlukan.Bagaimana Evaluasi Keperawatan Dil Setelah Penanan di
Evaluasi adalah tahap akhir dari proses keperawatan dan sangat penting untuk memastikan intervensi yang diberikan efektif. Perawat akan menilai apakah kejang sudah berhenti sepenuhnya, apakah suhu tubuh sudah kembali dalam batas normal36β37,5Β°C), apakah tanda-tanda vital stabil, dan apakah kesadaran anak sudah pulih seperti semula. Sel evaluasi fisik, perawat juga menilai tingkat pemahaman orang tua setelah edukasi diberikan β apakah mereka sudah mengerti cara penanganan di rumah danan harus kembali ke IGD. Jika semua kriteria hasil tercapai dan kondisi anak stabil, anak bisa dipangkan dengan resep obat dan lembar edukasi terlis. Namun jika belum,encana keperawatan dimodifikasi sesuai perkembangan kondisi anak.Apa yang Harus Diperapkan Orang Tua Setelah Anak Pul dari IGD?
Pul dari IGD bukan berarti semuanya selesai. Ada beberapa hal penting yang perlu orang tua sikan dan perhatikan di rumah. Pertama, pastikan obpiretik selalu tersedia di rumah dan gunakan segera saat anak mulai demam βangan tunggu sampai demam sangat tinggi. Kedua,ika dokter meresepkan diazepam rektal (stesolid) untuk keuratan di rumah, pastikan orang tua sudah tahu cara pengnaannya dengannar. Ketiga, pantau suhu ara berkala menggunakan termometer, idealnya setiap 4 jam selama demam masih berlangsung. Keempat, pastikan anak cukup minum cairan untukegah dehidrasi. Kelima, jangan panik berlebihan, tapi tetap waspada β jika kejang kembali tih dari 5 menit atauanak tidakdar setelah kejang berhenti, segera bawa ke IGD terdekat. Konsultasi rutin ke dokter spesialis anak juga disarankan untuk memantau perkembangan danah kekambuhan.