Infeksi Saluran Kemih (ISK) pada anak adalah salah satu kondisi medis yang cukup sering ditemui dalam praktik pediatri sehari-hari. Ikatan Dokter Anak Indonesia (IDAI) telah memberikan panduan komprehensif mengenai diagnosis, penanganan, dan pencegahan ISK pada anak. Sebagai orang tua, memahami informasi yang tepat tentang ISK sangat penting agar anak mendapatkan penanganan yang cepat dan tepat. Berikut adalah kumpulan pertanyaan yang sering diajukan seputar ISK pada anak berdasarkan pedoman IDAI.

Apa itu ISK pada Anak dan Seberapa Sering Terjadi?

ISK atau Infeksi Saluran Kemih adalah kondisi ketika bakteri masuk dan berkembang biak di dalam saluran kemih, mulai dari ginjal, ureter, kandung kemih, hingga uretra. Menut IDAI, ISK merupakan infeksi bakteri tersering kedua pada anak setelah infeksi saluran pernapasan. Diperkirakan sekitar 3–8% anak perempuan dan 1–2% anak laki-laki mengalami ISK setidaknya sekali dalam masa kanak-kanak mereka. Kejadian ISK lebih tinggi pada bayi baru lahir laki-laki yang belum disunat namun setelah usia satu tahun,empuan lebih rentan mengalami ISK dibandingkan anak laki-laki.

Penyebab paling umum ISK pada anak adalah bakteri Escherichia coli (E. coli), yang bertanggung jawab atas sekitar 80–90% kasus. Bakteri ini umumnya berasal dari saluran cerna dan dapat berpindah ke saluran kemih. Selain E. coli, bakteri lain seperti Klebsiella, Proteus mirabilis, dan Enterococcus juga bisa menjadi penyebab IDAI menekankan bahwa beberapa faktor risiko dapat meningkatkan kemungkinan terjadinya ISK, di antaranya kelainan anatomi saluran kemih seperti refluks vesikoureter, konstipasi kronis, kurang menjaga kebersihan area genital, dan penggunaan popok yang tidak diganti secara teratur.

Bagaimana Gejala ISK pada Anak?

Gejala ISK pada anak sangat bervariasi tergantung usia. Padayi dan anak kecil diawah dua tahun, gejalanya seringkali tidak spesifik, seperti demam tanpa sebab jelas, rewel, muntah, naf makan menurun, dan berat badan tidak naik. Pada anak yang lebih besar, gejala lebih khas seperti nyeri atau rasa terbakar saat buang air kecil (disuria), sering ingin buang air kecil (frekuensi), buang air kecil yang tidakisa ditahan (urgensi), nyeri di area perut bagian bawah atau pinggang, serta urine yang berbau tidak sedap atau tampak keruh. IDAI menegaskan bahwa demam padayi di bawah tiga bulan tanpa sumber infeksi yang jelas harus segera dievaluasi untuk kemungkinan ISK.

Bagaimana Cara Mendiagnosis ISK pada

Diagnosis ISK ditegakkan berdasarkan gejala klinis yang didukung oleh pemeriksaan laboratorium. Pemeriksaan utama adalah urinalisis dan kultur urine.kankan pentingnya pengambilan sampel urine yang benar untuk menghindari kontaminasi. Pada bayi dan anak kecil, pengambilan sampel dilakukan melalui kateterisasi atau aspirasi suprapubik untuk mendapatkan hasil yang akurat. Pada anak yang lebih besar, sampel urine porsi tengah (midstream clean catch) dapat digunakan. Hasil urine dengan pertumbuhan bakteri lebih dari 100000 koloni per mililiter padaatu jenis bakteri dianggap signifikan dan menjadi dasar diagnosis ISK.

Apa Pengobatan ISK pada Anak Menurut IDAI?

Pengobatan ISK pada anak melibatkan pemberian antibiotik yangsuai dengan hasilji sensitivitas dari IDAI merekomendasikan pemberian antibiotik oral kasus ISK yang tidak komplikasi, sedangkan antibiotik intravena diperlukan untuk kasus berat atau padayi muda Lama pengobatan umumnya 7–14 hari tergantung keparahaneksi dan kondisi anak. Orang tua tidak boleh menghentikan antibiotik lebih awal meski gejala sudah membaik, karena hal ini berisiko menyebabkan resistensi antibiotik danekambuhan infeksi. Setelah pengobatan selesai, biasanya dilakukan pemeriksaan ulang urine untuk memastikan infeksi telah sembuh sempurna.

Apakah ISK pada Anak Bisa Menyebabkan Komplikasi Serius?

Ya, ISK yang tidak ditangani dengan tepat dan cepat dapat menyebabkan komplikasi serius. Komplikasi palingkan adalah pielonefritis (infeksi ginjal) yang dapat meninggalkan jaringan par pada ginjal (renal scarring). Jaringan parut ginjal yang terbentuk sejak usia dini berpotensi menyebabkan hitensi, gangguan fungsi ginjal, hingga gagal ginjal kronik diudian hari.rekomendasikan pemeriksaan pencitraan seperti ultrasonografi ginjal dan saluran kemih,erta pemeriksaan skintigrafi ginjal (DMSA scan) pada anak yang mengalami ISK berulang atauasus tertentu untukdeteksi kerusakan ginjal sedini mungkin.Kapan Anak dengan ISK Harus Segera Dibawa ke Dokter?IDAI menegaskan bahwa beberapa kondisi memerlukan penanganan medis segera. Segera bawa anak ke dokter atau fasilitas kesehatan apabila bayi ber kurang dari tiga bulan mengalami demam, anak mengam tinggi di atas 38,5 derajat Celcius yang tidak mereda, anak tampak sangat lemas, tidakau makan atau minumah terus-menerus, terdapat nyeri hebat di daerah pinggang, atau bilaanak sudah pernah mengalami ISK sebelumnya dan gejala kembali muncul. Penundaan pengobatan pada kondisi-kondisi tersebut dapat meningkatkan risiko komplikasi berbahaya bagi ginjal anak.

Bagaimana Cara Mencegah ISK pada

Pencegahan ISK sangat penting terutama padaernah mengalami ISK sebelumnya atau memiliki kelnan saluran kemih. IDAI memberikan beberapa rekomendasi pencegahan yang dapat dilakukan di rumah, antara lain memastikan anak minum air putih yang cukup setiap hari untukenjaga aliran urine tetap lancar, mengajarkan anak untuk tidakang air kecil, membersihkan area genital dari arah depan ke belakang padaanak perempuan untuk mencegah perpindahan bakteri darianus ke uretra, menanti popok bayi secara teratur,ani konstipasi dengan baik karena konstipasi dapat meningkatkan risiko ISK, dan pada anak laki-laki yang belum disunat, menjaga kebersihan area preputium Padaasus ISK berulang dengan kelainan anatomi, dokter mungkin akanpertimbangkan pemberian antibiotik profilaksis jka panjang.Apakah ISK pada Anak Bisa Kambuh dan Bagaimana Penanganannya?

ISK ber rekuren menjadi tantangan tersendiri dalamanganan anak. IDAI mendefinisikan ISK berulang sebagai kejadian dua atau lebih episode ISK dalam enam bulan, atau tiga episodeatu tahun.isi ini, dokter akan melakukan evaluasi menyeluruh untuk mencari penyebab yangdasari, termasuk kelomi atau fungsional saluran kemih. Pemeriksaan seperti voiding cystourethrogram (VCUG) dan ultrasonografi dilakukan untuk mendeteksi refluks vesikoureter atauainan lainnya. Penanganan ISK berulang tergantung pada penyebabnya dan dapat meliputiapi antibiotik profilaksis, perubahan kebiasaan sehari-hari, hingga tindakan bedah bila diperlukan. Pemantauan fungsi ginjal secara berkala juga sangat dianjurkan oleh IDAI untuk anak-anak dalamompok ini.