Infeksi Saluran Kemih (ISK) pada anak adalah kondisi yang lebih umum dari yang banyak orang tua sadari, dan seringkali luput dari perhatian karena gejalanya bisa samar, terutama pada bayi dan anak kecil. Ikatan Dokter Anak Indonesia (IDAI) telah mengeluarkan panduan klinis terkait diagnosis tata laksana ISK pada anak, yang menjadi acuan bagi para dokter di seluruh Indonesia. Memahami kondisi ini bukan sekadar pilihan β ini keharusan, karena ISK yang tidak ditangani dengan benar bisa berujung pada kerusakan ginjal permanen.
Apa itu ISK pada Anak dan Seberapa Serius Kondisi Ini?
ISK pada anak adalah infeksi yangerjadi di sepanjang saluran kemih, mencakup kandung kemih (sistitis), ginjal (pielonefritis), atau keduanya. Menurut IDAI, ISK termasuk infeksi bakteri serius yang paling sering ditemukan pada anak-anak, terutama di bawah usia 5 tahun. ISenyerang ginjal (ISK atas) jauh lebih berbahaya dibandingkan ISK yang terbatas di kandISK bawah), karena berpotensi meninggalkan jaringan parut pada ginjal yang bisa berdampak jangka panjang,masuk hipertensi dan gagal ginjal kronis di kemudian hari. Ini bukan kondisi yang bisa dianggap remeh.Apa Saja Gejala ISK pada Anak yang Harus Diwaspadai?
Gejala ISK pada anak sangat bervariasi tergantung usia. Pada bayi, gejalanya tidak spesifik dan bisa hanya berupa demam tanpa sumber yang jelas, rewel, nafsu makan menurun, atau pertumbuhan yangerhambat. Pada anak yang lebih besar, gejala mulai lebih khas seperti nyeri atau rasa terbakar saat buang air kecil (disuria), sering buang air kecil (frekuensi meningkat), ngompol padahal sebelumnya sudah tidak, nyeri perut bagian bawah, atau nyeri pinggang. Demam tinggi yang disertai menggigil pada anak kecil harus selalu membuat orang tua waspada terhadap kemungkinan ISK Janganunda untuk membawa anak ke dokter jika gejala-gejala iniuncul.
Siapa Saja Anak yang Paling Berisiko Terkena ISK?
Tidak semua anak memiliki risiko yang sama. IDAI menyebutkan bahwa bayi perempuan dan laki-laki diawah usia 1 tahun sama-sama rentan Namun setelah usia itu, anak perempuan memiliki risiko lebih tinggi karena anatomi uretra yang lebih pendek dan lebih dekat keanus. Faktor risiko lain signifikan meliputi kelainan struktural pada saluran kemih seperti refluks vesikoureteral (RVU), konstipasi kronik, kebersihan perineum yang kurang terjaga, penggunaan popok yang jarang diganti, serta riwayat ISK sebelumnya. Anak dengan sistem imun yang lemah juga masuk dalam kelompok yang harus mendapat perhatian ekstra.
Bagaimana Carater Mendiagnosis ISK pada Anak?
Diagnosis ISK tidak bisa hdasarkan gejala klinis semata. IDAI menegaskan bahwa pemeriksaan urinalisis dan kultur urin adalah standar baku untuk menegakkan diagnosis ISK. Pengambilan sampel urin harus dilakukan dengan benar untuk menghindari kontaminasi β pada bayi, metode kateterisasi atau aspirasi suprapubik lebih direkomendasikan dibandingkan urin tampung biasa. Hasil kultur urin dengan pertuhan bakteri signifikan (β₯100.000 CFU/mL untukode midstream, atau lebih rendah untuk metode kateter) dikonfirmasi sebagai ISK. Pemeriksaan darah seperti leukosit, CRP, dan prokalsitonin juga dapat membantu menilai derajat keparahan infeksi.
Bagaimana Pengobatan ISK pada Anak Menurut IDAI?
Pilihan terapi sangat bergantung pada usia anak, keparahan infeksi, dan kemkinan adanya kelainan struktural. Untuk ISatas atauyi diawah 3 bulan, rawat inap dan pemberian antibiotik intravena umumnya diperlukan karena risiko sepsis yang tinggi. Pada anak yang lebih besar denganisi tidakerlalu berat, antibiotik oral selama 7β14 hari bisa menjadi pilihan. IDAI mengingatkan bahwa pemihan antibiotik harus didasarkan pada hasil kultur pola resistensi lokal β tidak boleh sembarangan memberikan antibiotik tanpa dasar yang jelas, karena resistensi antibiotik pada patogen ISK anak semakin menjadi masalah serius di Indonesia.
Apakah ISK pada Anak Bisa Berulang dan Bagaimana Mencegahnya?
Ya, ISK pada anak memiki angka rekurensi yang cukup tinggi, terutama dalam 612 bulan pertama setelah episodeama. Pada anak dengan faktor risiko anatomis seperti RVU, risiko berulang bahkan lebih besar. Pencegahan meliputi beapa langkah konkret:enjaga hidrasi yang cukup agar aliran urin tetap lancar, mengjarkan anak peruan untuk cebok dari depan ke belakang, menanti popok secara rutin, menangani konstipasi jika ada, dan tidakahan buang air kecil. Padaasus tertentu dengan risiko tinggi, IDAI merekomendasikan pemberian antibiotik profilaksis dosis rendah untuk mencegah infeksi berulang, meski keputusan ini harus dibuat secara individual oleh dokter.Pemeriksaan Lanjutan Apa yang Diperlukan Setelah ISK Pertama pada Anak?
Setelah episodeK pertama, terutama jika terjadi pada bayi atau anak kecil dan diduga merupakan ISK atas, IDAI merekomendasikan pencitraan untukdeteksi kelal. Ultrasonografi (USG) ginjal dan saluran kemih adalah pemeriksaan awal yang penting dan invasif. Pemeriksaan lebih lanjut seperti Voiding Cystourethrogram (VCUG) untuk mendeteksi RVU, atau DMSA scan untuk menilai jaut ginjal, dapat dilakukan berdasarkan indikasi klinis. Langkah inirusial karena kelainan anatomis yangdeteksi adalah salah satu alasan utama mengapa ISK terus berulang danrusakan ginjal berlanjut tanpa disadari.
Kapan Orang Tua Harus Segera Membawa Anak ke UGD atau Rumah Sakit?
Ada sejmlah kondisi yang tidak boleh ditgu dan hapat penanganan darurat segera. B anak ke UGD jika:anak berusia di bawah 3 bulan dengan demam; demam sangat tinggi (di atas 39,5Β°C) tidak merespons obat penurun panas; anak tampak sangat lemas, tidak mau makan atauinum sama sekali; muntah hebat yang menyulitkan pemberian obat oral; atauika kondisi anak memburuk dengan cepat. ISK pada bayi mudaisa berkembang menjadi sepsis dalam waktu singkat.unggu talu lama dalamisi-kondisi tersebut adalahbuah risiko yang tidakadan, dan intervensi medis cepat bisa menentukan segalanya.